Loading...

Kamis, 07 April 2011

Sekilas Tentang Sokaraja

            Sokaraja adalah sebuah kota kecil, sekitar 9 kilometer arah tenggara kota Purwokerto, Banyumas. Orang mengenal kota ini sebagai pusat jajanan khas Banyumasan, kripik dan getuk goreng. Sejak pertengahan 80-an, kota ini memang sudah kadung lekat dengan julukan sebagai kota kripik dan kota getuk

. Nyatanya, julukan ini memang tidak berlebihan karena sepanjang jalan protol 1,5 kilometer yang membelah kota ini ke arah barat dan timur, berjejer puluhan kios dengan papan nama mencolok yang menawarkan merek dagangnya masing-masing. Setiap malam akhir pekan, akan banyak dijumpai puluhan bis antar kota dan mobil pribadi yang berjejer di sepanjang pinggir jalan, menunggu penumpangnya yang sedang berbelanja buah tangan jajanan khas ini.


Jembatan Kali Pelus Sokaraja. (Hanief.doc)

            Sokaraja dibelah oleh aliran sungai (Kali Pelus) tepat di tengah, yang memisahkan kota ini menjadi wilayah utara (Sokara lor kali) dan selatan (Sokaraja kidul kali). Desa Sokaraja Lor dan Sokaraja Wetan di sebelah utara Kali Pelus lebih bercorak pertanian daripada desa Sokaraja Kidul, Tengah dan Kulon di selatan yang lebih bercorak kota . Pusat industri dan perdagangannya memusat di sepanjang empat ruas protokol jalan yang menghubungkan Sokaraja dengan kota-kota lainnya dan wilayah pemukimannya berhimpitan tepat di belalakang jejeran toko/kios. Sementara, lahan persawahan membentuk lingkaran terluar yang mengelilingi kota Sokaraja di delapan penjuru mata angin.      

Sokaraja adalah pusat pemukiman urban dan komersil pertama yang berkembang di wilayah Banyumas. Kota ini adalah distrik pertama yang mendapat suntikan modal Belanda pada waktu awal diberlakukannya tanam paksa (1840-1870). Konon cerita, dipilihnya Sokaraja banyak dipengaruhi oleh kolaborasi penguasa lokal Sokaraja saat  itu (Tumenggung Jayadireja) dengan kumpeni Belanda pada saat Perang Diponegoro (1825-1830). Selagi daerah lain belum lagi beranjak dari isolasi geografis dan pertanian subsisten, Sokaraja sudah mendapatkan limpahan pembangunan fisik seperti jalan kereta api, jembatan, pasar, saluran irigasi, dan jalan raya. Singkatnya, gula menjadi mode ekonomi dominan di wilayah ini sampai dengan kebangkrutannya setelah depresi dunia akhir tahun 1920-an. Bangunan tua lapuk Pabrik Gula Kalibagor (500 meter selatan kota) yang berdiri sejak 1839 adalah saksi bisu kejayaan gula dalam ekonomi local Sokaraja selama rentang satu abad.

            Bagi orang luar, Sokaraja boleh jadi memang kadung lekat dengan getuk dan kripik. Tapi bagi penduduk asli, Sokaraja punya lebih banyak warna-warni sejarah dengan julukan yang berbeda-beda untuk tiap masa. Berbagai julukan itu menjadi pertanda aktivitas ekonomi yang berubah. Antara 1930-1960, Sokaraja dikenal sebagai kota batik. Dari awal Orba sampai akhir 80-an, kota ini dikenal dengan julukan kota lukisan dan kota keramik. Getuk goreng dan kripik hanya menandai perkembangan terbaru kegiatan ekonomi penduduknya. Entah julukan apa lagi yang akan muncul setelah ini.       

Kalaupun ada yang tidak berubah dari Sokaraja, itu karena dari dulu sampai sekarang orang mengenal kota ini sebagai kota santri. Kota kecil berpenduduk lebih kurang 22 ribu seluas kurang lebih 831 hektar ini memiliki 7 buah pesantren, 3 di Sokaraja Lor, 3 di Sokaraja Kulon, dan 1 di Sokaraja Tengah. Pesantren tertua di kota ini, Pesantren Assuniyah Kebonkapol di Sokaraja Lor didirikan oleh Syekh Imam Rozi pada tahun 1830-an. Ke arah timur, tidak jauh dari Pesantren Assuniyah, ada pesantren besar khusus untuk pengikut tarekat, namanya Pondok Pesulukan Naqsabandi. Pesantren ini juga dinamakan Pondok Peguron. Pada bulan Rajab, Maulud dan Ramadhan, Pondok Peguron akan dibanjiri ribuan pengikut tarekat Naqsabandi dari seluruh Indonesia yang mengikuti ritual suluk akbar.      

Predikat sebagai kota santri ada hubungannya dengan sejarah gerakan Islam dan ketokohan beberapa kyainya. Sejak awal 1930-an, Sokaraja menjadi tempat kedudukan konsul tetap NU yang membawahi wilayah kerja Banyumas, Jogja, dan Kedu.[1] Melalui NU-lah, Sokaraja berkembang menjadi pusat perlawanan gerakan kyai menentang penjajahan Belanda dan Jepang. Menurut beberapa sumber lokal, gerakan perlawanan kyai ini merupakan bagian dari gerakan Mabadi Khoiro Ummah yang sudah dirintis oleh NU sejak awal 1930-an. Gerakan ini mencakup banyak kegiatan seperti pengajian rutin, pengumpulan dana perjuangan, pendirian madrasah, sampai dengan penggemblengan fisik untuk para pemuda.[2]

Pada masa Jepang, gerakan perlawanan bawah tanah (non-cooperatie) ini berkembang menjadi gerakan cooperatie dengan penguasa pendudukan. Kyai Raden Mukhtar, konsul NU Banyumas misalnya, menjadi satu-satunya perwakilan NU di Syumuka (lembaga bentukan Jepang yang menyerupai lembaga kepenguluan masa Belanda di tingkat kabupaten) Dalam Guruku Orang-Orang Pesantren, Saifuddin Zuhri yang pernah menjadi tangan kanan Kyai Wahid Hasyim, menyinggung bahwa kerjasama ini merupakan bagian dari taktik baru yang ditempuh NU pasca penahanan Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari oleh Jepang pada tahun 1943. Pada hemat penulis, perubahan strategi dari non-kerja sama ke kerjasama ini merupakan upaya NU untuk mengikis dominasi kalangan modernis dalam lingkaran birokrasi kolonial dan sekaligus menciptakan basis kekuasaan untuk dirinya sendiri dalam struktur baru pasca kolonial.

Predikat sebagai kota santri untuk Sokaraja juga berasal dari ketokohan kyai-kyainya. Sampai saat ini, hampir semua kyai di Banyumas melacak genealogi pengetahuannya, langsung maupun tidak langsung, dari beberapa kyai sepuh di Sokaraja. Sokaraja menjadi tempat tinggal beberapa kyai generasi pertama di Banyumas yang mendapatkan pendidikannya dari pesantren-pesantren tua ternama seperti Termas, Bangkalan dan Lasem dan juga dari Arabia . Di samping itu, Sokaraja melahirkan kyai dari yang politisi, ahli fiqh, dan utamanya tarekat. Dari semuanya, barangkali tidak ada yang menyamai reputasi Kyai Saifuddin Zuhri yang pernah menjadi menteri agama era Soekarno akhir.


Tarekat adalah tradisi Islam lokal yang mengakar kuat di Banyumas secara umum dan khususnya Sokaraja. Barangkali ini ada kaitannya dengan sejarah awal perkembangan Islam di wilayah ini pada akhir abad ke-15. Sebelum kedatangan Islam, Banyumas adalah wilayah semi independen di bawah pengaruh Kerajaan Hindu Galuh Pakuan/Pajajaran. Empat abad setelah awal kedatangannya, Islam belumlah memiliki akar yang kokoh dalam tradisi keagamaan lokal. Beberapa sumber lisan (babad) bahkan menceritakan perlawanan yang dilakukan beberapa penguasa lokal terhadap proses Islamisasi di wilayah ini. Tarekat menjadi instrumen Islamisasi yang efektif karena kemampuannya mengakomodasi tradisi keagamaan lokal.  

Pada masa kekuasaan Tumenggung Jayadireja (1830-1853), Syattariyah adalah tarekat yang paling tersebar luas di Sokaraja. Diperkirakan, tarekat ini bersumber dari murid-murid Syekh Abdul Mukhyi, Garut, seorang mursyid tarekat Syattariyah yang mendapatkan ijazah irsyad-nya dari Syekh Abdurrauf Singkel, Aceh. Di Banyumas, Syattariyah menciptakan varian baru yang menggabungkan beberapa ajaran tarekat lain, seperti Rifaiyah dan Naqsabandi-Qodiriya h. Tarekat ini dikenal dengan nama tarekat Akmaliyah/Kamaliyah .

Ajaran tarekat Akmaliyah pernah menjadi objek disertasi Drewes pada tahun 1925 di Leiden . Menurut Drewes, Akmaliyah disebarkan oleh tiga guru tarekat; Kyai Hasan Maulani (Lengkong, Cirebon ), Kyai Nurhakim (Pasir Wetan, Purwokerto), dan Malangyuda (Rajawana, Purbalingga) . Ketiganya merupakan guru-murid, dengan Kyai Hasan Maulani sebagai pendiri dan guru utamanya. Menariknya, Kyai Hasan Maulani sendiri mendapat bimbingan pertama kali untuk masuk tarekat dari Syekh Abdussomad, seorang guru Naqsabandi-Qodiriya h di desa Jombor, sekitar 25 km barat Purwokerto. Sehingga tidak berlebihan untuk menyatakan bahwa Akmaliyah adalah tarekat lokal asli Banyumas. Mendasarkan pada studi Drewes, Bruinessen dan Steenbrink menyatakan bahwa Akmaliyah merupakan tarekat yang kental dengan ajaran wahdatul wujud dan sinkretisme Jawa.

Banyaknya pengikut tarekat Akmaliyah menakutkan penguasa saat itu. Hal ini mendorong Belanda membuang Kyai Hasan Maulani ke Menado pada tahun 1846.[3]Sepeninggalnya, ajarannya dilanjutkan oleh Kyai Nurhakim dan Malangyuda. Pada masa kepemimpinan Kyai Nurhakim dan Malangyuda, Akmaliyah menginspirasi beberapa pemberontakan rakyat di wilayah ini. Ini mendorong Belanda mengawasi ketat gerak-gerik kedua orang ini.

Seorang sejarawan lokal yang pernah menulis tentang ini, Tanto Sukardi, menghubungkan gerakan tarekat Akmaliyah dengan meluasnya ketidakpuasan rakyat terhadap kondisi sosial ekonomi masa tanam paksa. Tarekat bahkan memakan korbannya dari kalangan elit penguasa ketika Belanda mengasingkan bekas sekutunya, Tumenggug Jayadireja (bekas penguasa Sokaraja dan Bupati Purwokerto, 1853-1860) ke Padang pada tahun 1860. Bupati Jayadireja dituduh berkomplot untuk menggulingkan kekuasaan Belanda karena asosiasinya dengan gerakan tarekat Kyai Nurhakim.

Surutnya Syattariyah dan Akmaliyah di Banyumas secara umum dan Sokaraja secara khusus tidak mematikan gerakan tarekat di wilayah ini. Sejak awal 1880-an, Kyai Muhammad Ilyas muncul sebagai mursyid terkemuka. Dia merupakan salah satu khalifah Sulaiman Zuhdi (guru tarekat Naqsabandi-Kholidiy ah asal Turki di Mekkah) untuk wilayah Jawa.[4] Dia mulai menyebarkan tarekat ini dari langgar kecilnya di dukuh Kedungparuk, Mersi (sekitar 5 km timur Purwokerto). Mengulang nasib guru-guru tarekat sebelumnya, sambutan luas masyarakat terhadap ajarannya kembali mengundang kecurigaan Belanda terhadap Kyai Muhammad Ilyas. Dengan tuduhan makar, Kyai Muhammad Ilyas kemudian ditahan Belanda pada tahun 1888.[5]

Setelah dibebaskan dari tahanan, Kyai Muhammad Ilyas meneruskan ajaran tarekatnya di Sokaraja Lor. Pemilihan Sokaraja Lor erat kaitannya dengan pengawasan ketat Belanda yang terus berlanjut atas tokoh ini. Secara geografis, Sokaraja dipilih karena mempunyai jalur transportasi yang bagus dan hanya berjarak kurang dari 10 km dari kota Banyumas, ibukota karesidenan Banyumas saat itu. Alasan lainnya lebih bersifat pribadi. Kyai Muhammad Ilyas hanya diijinkan mengajar tarekat dari masjid wakaf Penghulu landraat Abubakar, seorang pejabat agama kolonial yang belakangan menjadi mertuanya. Pada waktu meninggalnya tahun 1914, Kyai Muhammad Ilyas meninggalkan pada keturunannya sebuah jaringan tarekat yang tersebar luas di wilayah Banyumas dan sekitarnya.[6] Kyai Abdussalam, mursyid Naqsabandi-Kholidiy ah saat ini, adalah cicit Kyai Muhammad Ilyas. Di bawah Kyai Abdussalam, jaringan tarekat ini menyebar sampai ke Aceh, Riau, Jambi, Lampung, Jabar, Kalsel dan Kaltim, dan Kalteng dengan jamaah sekitar 35.000 orang.

Sejak akhir 1920-an, dominasi Naqsabandi-Kholidiy ah di Sokaraja mendapat saingan dari tarekat Syadziliyah. Tarekat ini disebarkan pertama kali oleh Kyai Muhammad Asfiya, Sokaraja Tengah, cucu dari Syekh Imam Rozi, perintis dakwah Islam di Sokaraja dan pendiri Pesantren Assuniyah, Kebonkapol Sokaraja Lor. Saat ini, terdapat lima orang mursyid di kota Sokaraja; yaitu Kyai Muhammad Hidayat, Habib Umar Bafakih, Kyai Abdussalam, Habib Khusen bin Salim dan Kyai Muhammad Imam Munchasir. Dua yang pertama adalah mursyid Naqsabandi-Qodiriya h sedang dua yang terakhir adalah mursyid Syadziliyah. Syadziliyah adalah jaringan tarekat tunggal terbesar di wilayah ini dengan jumlah mursyid sebanyak kurang lebih 24 orang.

Referensi :
Islamisasi dan Masyarakat Pasar :
Sufisme dan Sejarah Sosial Kota Sokaraja
Oleh: Luthfi Makhasin
Anggota Forum Lafadl, Faculty of Asian Studies (Southeast Asian Studies)
The Australian National University
Canberra-ACT, Australia